Ini adalah separuh kisah perjalanan hidup @Srihorni yang
ingin berbagi pengalaman, barangkali dengan kisah yang tersurat mampu membuka
mata kita agar lebih cermat dalam melangkah.
*******
Saat masuk ke dalam dunia alterland , aku tertarik dengan StoryOfAlter.
Tanpa ragu aku ingin menjadi salah satu narasumber, dan berbagi sedikit kisah
hidupku. Mungkin memang bisa dibilang kisahku baru seumur jagung untuk
dituliska. Tapi aku yakin dengan perjalanan hidupku ini, sampai dititik dimana
aku bisa mengenal orang yang benar-benar peduli denganku, bahkan dalam kondisi
terburuk sekalipun.
Kuliah adalah masa-masa dimana seorang remaja sepertiku
berada di tingkat tertinggi. Artinya aku merasa sudah dewasa dan bisa melakukan
hal apapun yang aku inginkan. Tapi yang aku lakukan mencari cara bagaimana aku
bisa membiayai kuliahku. Memang benar orang tuaku tidak sepenuhnya membiayai
kuliahku, awalnya memang setiap aku membutuhkan
uang untuk keperluan kuliah aku tinggal minta orang tua. Tetapi keadaan
berbalik setelah ayahku mengalami stroke, mau tidak mau, suka tidak suka aku
harus mencari tambahan uang untuk biaya kuliahku. Ya.. hitung-hitung membantu
meringankan beban orang tua.
Liku hidupku dimulai ketika aku mengenal seorang pria yang
sudah menjalin hubungan denganku kurang lebih selama tiga tahun. Awalnya
hubungan kami bisa dibilang baik. Layaknya sepasang muda-mudi yang sedang jatuh
cinta, kami melakukan hal-hal sebagaimana yang dilakukan remaja. Dia begitu
sempurna dimataku, mengerti segala kesulitan dan sering memberi bantuan dikala
ku butuh.
Entah apa yang aku lakukan, dia membuatku begitu terpukau.
Hari itu memang seharian kami menghabiskan waktu bersama. Perasaan sayang dan
cinta yang dia tunjukkan membuatku luluh seketika. Iyaa... tanpa akhirnya
kami ML atas dasar suka sama suka dan
tanpa paksaan apapun. Aku sadar kesalahan yang telah kuperbuat. aku menyerahkan
harta yang paling beharga yang aku miliki.
Kaget bukan main saat kudapati sudah terlambat menstruasi selama
kurang lebih satu minggu. Perasaan bingung menyelimuti benakku, segera berfikir
yang harus aku lakukan. Memeriksa dengan tespack adalah cara untuk mengetahui
kondisiku. Terselip perasaan penasaran, ragu, takut, semua bercampur. Sebelum
memberitahu pacarku, memang aku harus memastikannya terlebih dahulu.
Tes pack sudah ditangan, kaki ini kelu untuk segera beranjak
dan memeriksa. Berjalan pelan menuju kamar mandi yang berada di sebelah dapur
rumahku. Terdapat dua garis merah diujung tes pack, seketika aku tersungkur dan
berusaha menggerak-gerakkan tespack, tidak yakin dengan hasil yang aku dapati.
Berdebar, bingung, menyesal, dan... aku harus menerima konsekuensi dari
perbuatan yang aku lakukan. AKU HAMIL!!!!
Lemas tak mampu terucap sepatah kata dari mulutku. Hanya
berfikir mencari jalan keluar untuk masalah ini. Kuambil ponsel yang tergeletak
di kasur untuk menghubungi pacarku. Di benakku terbesit niat menggugurkan
kandungan ini. Tak ada jalan lain yang bisa aku lakukan. Malam itu juga aku
bercerita tentang kehamilanku ini, aku tidak meminta pertanggung jawaban. Yang
aku minta hanya bantuan untuk menggugurkan bayi dalam perutku ini.
Bagai kilatan petir menyambar ketika aku mendengar jawaban
dari pacarku, “aku tidak mau tau tentang kehamilanmu, itu bukan urusanku!”
kalimat itu sampai detik ini pun selalu terngiang di telinga. Hanya tangisan
yang bisa kulakukan. Kepada siapa aku meminta bantuan. Sejak dia tahu
kehamilanku dia jadi jarang menghubungiku.
Sekuat tenaga aku melakukan beragai cara untuk menggugurkan
bayi ini, tidak mungkin bayi ini aku lahirkan dan membiarkan orang tuaku mengetahui
anak perempuannya hamil di luar nikah dan parahnya laki-laki yang menghamili
putrinya tidak mau bertanggung jawab. Dalam kondisi ayahku yang stroke, apa aku
tega menambah beban mereka dengan
masalahku ini??
Segala macam obat sudah aku minum untuk menggugurkan
kandunganku tetapi tak ada hasil, sempat aku berfikir untuk jual diri biar
mendapatkan uang untuk biaya menggugurkan kandunganku ini. Tapi karena
kehamilanku sudah semakin membesar, untuk menggugurkan sudah tidak mungkin.
Kampus menjadi area terbising buatku. Kehamilanku yang kian
hari kian membesar membuat teman-teman seangkatanku berkicau. Hampir setiap
hari aku menjadi hot gosip dan bahan pergujingan. Karena aku hamil diluar
nikah. Segala macam ledekan, olokkan, cemooh menjadi santapan hari-hariku. Tapi
buatku itu bukan hal yang dapat menjatuhkanku, karena aku berfikir mereka tidak
berhak atas hidupku dan hal semacam itu masa bodoh buatku.
Arham adalah sosok laki-laki yang menjadi malaikat penolong
disaat aku benar-benar merasa terpuruk. Dia temanku masa kecil, disaat semua
orang menghindar, menjauh, mencemooh aku dengan sabar dia memberiku penguatan
dan motivasi untuk melawan ujian hidup ini. Arham selalu menjadi orang yang
memperhatikanku.
Akhirnya aku bertekad untuk melahirkan bayiku, tapi tidak
untuk aku rawat. Melihat kondisiku yang seperti sekarang tidak mungkin aku
merawat seorang bayi. Jadi aku mencari informasi tentang orang tua angkat. Aku
berniat untuk memberikan anakku untuk diadopsi orang, biar dia memiliki orang
tua yang baik dan mendapatkan kehidupan yang layak.
Setelah aku seraching-searching di Facebook, aku menemukan
sepasan suami istri yang berminat untuk mengadopsi anakku saat sudah lahir.
Selama beberapa hari aku berkomunikasi dengan calon orang tua angkat anakku,
dan kami memutuskan untuk bertemu. Saat bertemu, dengan penuh keyakinan mereka
mengiyakan permintaaku. Aku hanya minta untuk dibiayai selama proses
kelahiranku. Hanya itu tidak lebih. Pasangan itu juga memberikan syarat
kepadaku, setelah aku memberikan bayiku itu berarti aku sudah tidak berhak atas
dia lagi.
Aku hamil dan tinggal di rumah. Mungkin tersirat tanya, apa
orang tuaku tidak curiga? Jelas mama sangat curiga dan selalu bertanya-tanya,
tapi aku selalu mengelak setiap pertanyaannya. “dek kok perut kamu makin hari
makin besar ya?” pertanyaan seperti itu sering dilontarkan mama. Dan aku selalu
menjawabnya “iya ma, ini tambah gendut sekarang makanku banyak”
Jika di dalam rumah atau di sekitar tempat tinggalku, korset
selalu melilit di perutku menutupi kehamilan yang kian membesar. Sakit... jelas
sakit bukan main rasanya tapi semua itu aku tahan sampai proses kelahiranku
tiba. Seminggu sebelum aku melahirkan, aku kabur dari rumah. Aku langsung di
rumah sakit, dan Arham dia yang menemaniku, mengurusku sampai aku diijinkan untuk
pulang oleh dokter.
selama sembilan bulan mengandung, dan Tiga bulan yang lalu aku melahirkan seorang bayi, naluri
seorang ibu tiba-tiba muncul...
Aku merasa sangat menyesal karena sudah memberikan darah
dagingku sendiri kepada orang lain, sekalipun aku belum pernah memeluk,
menggendong, bahkan menciumnya. Andai diberikan kesempatan untuk bertemu dan
memeluknya sekali saja, aku hanya ingin berkata maaf anakku.
“Nak.. maafkan bunda yang tak berguna,
maafkan bunda telah
membuatmu susah saat dalam kandungan,
maafkan bunda sudah memberikanmu kepada
orang lain,
maafkan bunda tidak bisa merawatmu.
Sungguh bunda sangat
menyayangimu...”
Sebagai catatan, saat aku hamil laki-laki yang tidak
bertangung jawab itu memutuskan hubungan denganku. Dan dia tidak pernah
mengetahui kalau aku sudah melahirkan dan memberikan bayi kami untuk diadopsi
orang lain. Aku tak pernah menyesal melahirkan seorang bayi, rasa takut atau
trauma untuk mengandung kembali pu tak pernah terfikir. Yang aku sesali hanya
aku tak mampu merawat anakku sendiri.
Perasaan menyesal yang mendalam selalu menggerogoti fikirku.
Terlambat memang untuk menyesalinya, yang sekarang harus aku lakukan adalah
mencoba bangkit dan menjalani hidupku ke arah yang lebih baik. Saat ini aku sedang
bekerja dan berusaha agar aku bisa melanjutkan kuliahku kembali. Menyelesaikan
kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang layak, itulah targetku sekarang. Menikah
dengan pria baik dan mampu bertanggung jawab serta melahirkan seorang anak yang
soleh soleha adalah keinginanku.
Dari kisah ini Aku hanya ingin berpesan untuk kalian
perempuan jangan pernah melakukan kesalahan yang telah aku perbuat, menjadi
seorang ibu adalah hadiah terindah karena menjadi sempurna adalah dambaan setiap perempuan. Untuk kalian
pria-pria jadilah seorang pria yang bertanggung
jawab karena menjadi seorang ayah merupakan tugas mulia.