Laman

Laman

Selasa, 25 Maret 2014

Hanya karena Fantasi seks...

#StoryOfAlter ini di share oleh teman kita yang tidak ingin disebutkan, mau berbagi berbagi kisah hidupnya. Mengingatkan kita betapa pentingnya sebuah prinsip hidup dan betapa berbahayanya sebuah fantasi seks yang tak terkendali.

Pernikahan… saat mendengar kata itu yang ada dalam benak seorang wanita adalah kehidupan yang indah. Indah karena dijadikan satu-satunya wanita pendamping pria yang dicintai, indah karena akan diangkat derajatnya, indah karena diberikan kepercayaan untuk menjadi ratu dalam rumahku. semua hal itu menjadi dambaanku ketika aku diajak menikah. Sayang semua itu berbanding terbalik dengan apa yang menjadi angan-anganku.



Empat belas tahun yang lalu, ketika seorang pria yang mencintaiku dengan tulus mengajakku untuk menikah dengan perasaan mantap aku mengiyakan. Kutinggalkan karier ku dan total menjadi ibu rumah tangga. Awalnya kehidupan rumah tangga kami tidak kurang dari suatu apapun, semua berjalan dengan bahagia dan menyenangkan. Hingga kami dikaruniai seorang anak laki-laki, begitu tampan rupanya, itu adalah hal paling menyenangkan dalam kehidupan keluarga kecilku.

Jagoan kecilku selalu mengisi hari-hari ini dengan penuh senyuman, aku sangat menikmati peran baruku menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu. Mengganti popoknya, memberikan asi, memandikannya, menenangkannya saat menangis. Lengkap sudah kebahagiaanku dan aku ingin mengunci rapat kebahagian ini agar tidak lepas dari genggamanku.

Setelah menginjak tahun ke-9 pernikahan, aku merasa ada sesuatu yang lain dari suamiku. Dia sering menceritakan fantasi-fantasi seks yang sedikit gila. Awalnya aku menganggap itu hanya untuk menjaga hubungan dan menjaga gairah seksual karena kami sudah lama menjadi suami istri. Hampir setiap hari aku dijejali dan didoktrin untuk mengikuti fantasi seks suamiku, dan dengan terpaksa aku mengikutinya.

Sampai pada suatu hari, hal yang membuatku merasa sangat bodoh dan menjadikan rumah tanggaku hancur. Iyaa… suamiku ingin mewujudkan fantasi-fantasi seks gilanya  dengan orang ketiga.

Pertama kali aku diajak “three some” dengan seorang perempuan, aku tidak menolak tetapi tidak juga mengiyakan. Kemudian Dia mengajakku hunting ke sebuah club malam dengan tega meninggalkan seorang anak di rumah hanya dengan seorang pembantu. Sungguh bodoh diriku saat itu.

Dari satu club malam ke club malam yang lain aku di mintanya memilih wanita penghibur, tapi hanya perkataan “sayang aku kurang cocok dan gak sreg sama ceweknya”. Hanya kalimat itu yang sanggup terucap. Itulah penolakan halusku.

Sampai ajakan untuk “swingers” pun dia lontarkan, lagi-lagi hanya senyum miris yang mampu terukir di bibir. Melukiskan betapa perih hati wanita sepertiku. Tetap bertahan demi anakku hanya itu yang ada dalam benak. Aku pikir tidak akan mampu berdiri sendiri tanpa sokongan biaya dari suami dan aku tidak mau anak semata wayangku menyaksikan orang tua nya bercerai.

Sungguh tak pernah terbayang sebelumnya, suami yang selama ini aku bangga-banggakan, ayah dari anakku menyuruhku untuk berhubungan seks dengan orang lain dan dilihat dengan mata kepalanya. Tapi Alhamdulillah itu tidak terjadi, aku tidak bodoh dengan membiarkan fantasi gilanya terwujud.

Dia juga punya kebiasaan mengambil gambar adegan seks kami, dengan alasan hanya untuk koleksi pribadinya. Tapi ternyata tanpa sengaja aku melihat dia share foto di akun twitternya tanpa sepengetahuanku dan itu adalah foto-foto setengah telanjangku.

Kejadian itu membuatku semakin tak tahan dan menyadarkanku. Aku tidak boleh seperti ini, aku harus meluruskan semuanya, dan aku harus segera mengakhiri perbuatan bodoh ini. Terlintas tanya dibenakku,” bukankah salah satu tugas seorang suami adalah menjaga kehormatan istri? Dan disaat seorang suami tidak bisa menjaga amanah itu lalu apalagi yang harus dipertahankan”

Kehidupanku berubah 180 derajat. Aku begitu terpuruk dengan kesendirianku hanya makanan yang telah membudakkan aku untuk selalu menikmatinya. Tanpa sadar aku mengalami obesitas. suatu hari aku bertemu dengan seorang sahabat yang begitu prihatin akan keadaanku. Tangisan seorang sahabat yang hanya berkata “kamu berhak hidup bahagia, jangan kamu sakiti tubuh kamu dengan makanan-makanan ini, hargai diri kamu dan aku yakin kamu mampu survive tanpa dia” Kalimat itu menyadarkan ku dan memberi kekuatan fisik dan mentalku.

Sejak hari itu seakan punya kekuatan untuk melakukan perubahan, aku ingin mengubah jalan yang salah, aku ingin menjadi ibu yang baik buat anakku. Akhirnya aku meminta untuk berpisah dengan suamiku, dan 3 tahun yang lalu aku resmi bercerai dengan suamiku.

Betapa bodohnya aku sudah mempertahankan rumah tangga yang salah selama 11 tahun..Walau setelah bercerai tidak ada harta gonogini karna semuanya diambil mantan suamiku tapi aku ikhlas J

Tak pernah ada nafkah buat anakku dari mantan suamiku, itu artinya aku harus melakukan sesuatu untuk kelangsungan hidup anakku. Berlari kalau bisa berlari, berjalan kalau memang tidak bisa berlari,dan merangkak sekalipun kalau memang itu harus.

Aku harus berjuang sendiri, harus bangkit, dan survive dari keterpurukan. Banyak keluarga dan sahabat yang mendukungku, aku mulai mengatur pola makanku, selalu berfikir positif dan selalu bahagia dengan anak semata wayangku.

Alhamdulillah walaupun tidak berlebih tapi aku hidup cukup dengan anak dan orang tuaku. Masa-masa sulitku mengatasi keterpurukan selama 8 bulan lebih kini sudah terlewati. Kini aku hidup bahagia menjadi orang tua tunggal dari anakku. J

Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kalian cewek-cewek untuk bisa lebih menghargai diri sendiri walau sudah berstatus sebagai seorang istri. Kita sebagai perempuan harus bisa tegas dan berani mengambil sikap jika dirasa itu sudah melewati ambang batas kewajaran. Untuk kalian cowok-cowok semoga menjadi pelajaran dan jangan sampai dilakukan, sebagai seorang pria sejati hormati dan hargailah wanitamu selayaknya kalian menghormati ibumu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar