#StoryOfAlter ini di
share oleh teman kita yang tidak ingin disebutkan, mau berbagi berbagi kisah hidupnya. Mengingatkan kita betapa
pentingnya sebuah prinsip hidup dan betapa berbahayanya sebuah fantasi seks
yang tak terkendali.
Pernikahan… saat
mendengar kata itu yang ada dalam benak seorang wanita adalah kehidupan yang
indah. Indah karena dijadikan satu-satunya wanita pendamping pria yang
dicintai, indah karena akan diangkat derajatnya, indah karena diberikan
kepercayaan untuk menjadi ratu dalam rumahku. semua hal itu menjadi dambaanku
ketika aku diajak menikah. Sayang semua itu berbanding terbalik dengan apa yang
menjadi angan-anganku.
Empat belas tahun yang
lalu, ketika seorang pria yang mencintaiku dengan tulus mengajakku untuk
menikah dengan perasaan mantap aku mengiyakan. Kutinggalkan karier ku dan total
menjadi ibu rumah tangga. Awalnya kehidupan rumah tangga kami tidak kurang dari
suatu apapun, semua berjalan dengan bahagia dan menyenangkan. Hingga kami
dikaruniai seorang anak laki-laki, begitu tampan rupanya, itu adalah hal paling
menyenangkan dalam kehidupan keluarga kecilku.
Jagoan kecilku selalu
mengisi hari-hari ini dengan penuh senyuman, aku sangat menikmati peran baruku
menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu. Mengganti popoknya, memberikan
asi, memandikannya, menenangkannya saat menangis. Lengkap sudah kebahagiaanku
dan aku ingin mengunci rapat kebahagian ini agar tidak lepas dari genggamanku.
Setelah menginjak
tahun ke-9 pernikahan, aku merasa ada sesuatu yang lain dari suamiku. Dia
sering menceritakan fantasi-fantasi seks yang sedikit gila. Awalnya aku
menganggap itu hanya untuk menjaga hubungan dan menjaga gairah seksual karena
kami sudah lama menjadi suami istri. Hampir setiap hari aku dijejali dan
didoktrin untuk mengikuti fantasi seks suamiku, dan dengan terpaksa aku
mengikutinya.
Sampai pada suatu
hari, hal yang membuatku merasa sangat bodoh dan menjadikan rumah tanggaku
hancur. Iyaa… suamiku ingin mewujudkan fantasi-fantasi seks gilanya
dengan orang ketiga.
Pertama kali aku
diajak “three some” dengan seorang perempuan, aku tidak menolak tetapi
tidak juga mengiyakan. Kemudian Dia mengajakku hunting ke sebuah club malam
dengan tega meninggalkan seorang anak di rumah hanya dengan seorang pembantu.
Sungguh bodoh diriku saat itu.
Dari satu club malam
ke club malam yang lain aku di mintanya memilih wanita penghibur, tapi hanya
perkataan “sayang aku kurang cocok dan gak sreg sama ceweknya”. Hanya kalimat
itu yang sanggup terucap. Itulah penolakan halusku.
Sampai ajakan untuk “swingers” pun dia lontarkan, lagi-lagi
hanya senyum miris yang mampu terukir di bibir. Melukiskan betapa perih hati
wanita sepertiku. Tetap bertahan demi anakku hanya itu yang ada dalam benak. Aku
pikir tidak akan mampu berdiri sendiri tanpa sokongan biaya dari suami dan aku tidak
mau anak semata wayangku menyaksikan orang tua nya bercerai.
Sungguh tak pernah terbayang
sebelumnya, suami yang selama ini aku bangga-banggakan, ayah dari anakku
menyuruhku untuk berhubungan seks dengan orang lain dan dilihat dengan mata
kepalanya. Tapi Alhamdulillah itu tidak terjadi, aku tidak bodoh dengan
membiarkan fantasi gilanya terwujud.
Dia juga punya
kebiasaan mengambil gambar adegan seks kami, dengan alasan hanya untuk koleksi
pribadinya. Tapi ternyata tanpa sengaja aku melihat dia share foto di akun
twitternya tanpa sepengetahuanku dan itu adalah foto-foto setengah telanjangku.
Kejadian itu membuatku
semakin tak tahan dan menyadarkanku. Aku tidak boleh seperti ini, aku harus
meluruskan semuanya, dan aku harus segera mengakhiri perbuatan bodoh ini.
Terlintas tanya dibenakku,” bukankah salah satu tugas seorang suami adalah
menjaga kehormatan istri? Dan disaat seorang suami tidak bisa menjaga amanah
itu lalu apalagi yang harus dipertahankan”
Kehidupanku berubah
180 derajat. Aku begitu terpuruk dengan kesendirianku hanya makanan yang telah
membudakkan aku untuk selalu menikmatinya. Tanpa sadar aku mengalami obesitas.
suatu hari aku bertemu dengan seorang sahabat yang begitu prihatin akan
keadaanku. Tangisan seorang sahabat yang hanya berkata “kamu berhak hidup
bahagia, jangan kamu sakiti tubuh kamu dengan makanan-makanan ini, hargai diri
kamu dan aku yakin kamu mampu survive tanpa dia” Kalimat itu menyadarkan ku dan
memberi kekuatan fisik dan mentalku.
Sejak hari itu seakan punya
kekuatan untuk melakukan perubahan, aku ingin mengubah jalan yang salah, aku
ingin menjadi ibu yang baik buat anakku. Akhirnya aku meminta untuk berpisah
dengan suamiku, dan 3 tahun yang lalu aku resmi bercerai dengan suamiku.
Betapa bodohnya aku sudah
mempertahankan rumah tangga yang salah selama 11 tahun..Walau setelah bercerai
tidak ada harta gonogini karna semuanya diambil mantan suamiku tapi aku ikhlas J
Tak pernah ada nafkah
buat anakku dari mantan suamiku, itu artinya aku harus melakukan sesuatu untuk kelangsungan
hidup anakku. Berlari kalau bisa berlari, berjalan kalau
memang tidak bisa berlari,dan merangkak sekalipun kalau memang itu harus.
Aku harus berjuang
sendiri, harus bangkit, dan survive dari keterpurukan. Banyak keluarga dan
sahabat yang mendukungku, aku mulai mengatur pola makanku, selalu berfikir
positif dan selalu bahagia dengan anak semata wayangku.
Alhamdulillah walaupun
tidak berlebih tapi aku hidup cukup dengan anak dan orang tuaku. Masa-masa
sulitku mengatasi keterpurukan selama 8 bulan lebih kini sudah terlewati. Kini
aku hidup bahagia menjadi orang tua tunggal dari anakku. J
Semoga kisah ini bisa
menjadi pelajaran berharga buat kalian cewek-cewek untuk bisa lebih menghargai
diri sendiri walau sudah berstatus sebagai seorang istri. Kita sebagai perempuan harus
bisa tegas dan berani mengambil sikap jika dirasa itu sudah melewati ambang batas kewajaran. Untuk kalian cowok-cowok semoga menjadi pelajaran dan jangan sampai
dilakukan, sebagai seorang pria sejati hormati dan hargailah wanitamu selayaknya kalian menghormati ibumu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar