Laman

Laman

Kamis, 03 April 2014

Getir Liku Hidup

Ini adalah separuh kisah perjalanan hidup @Srihorni yang ingin berbagi pengalaman, barangkali dengan kisah yang tersurat mampu membuka mata kita agar lebih cermat dalam melangkah. 

*******

Saat masuk ke dalam dunia alterland , aku tertarik dengan StoryOfAlter. Tanpa ragu aku ingin menjadi salah satu narasumber, dan berbagi sedikit kisah hidupku. Mungkin memang bisa dibilang kisahku baru seumur jagung untuk dituliska. Tapi aku yakin dengan perjalanan hidupku ini, sampai dititik dimana aku bisa mengenal orang yang benar-benar peduli denganku, bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun.

Kuliah adalah masa-masa dimana seorang remaja sepertiku berada di tingkat tertinggi. Artinya aku merasa sudah dewasa dan bisa melakukan hal apapun yang aku inginkan. Tapi yang aku lakukan mencari cara bagaimana aku bisa membiayai kuliahku. Memang benar orang tuaku tidak sepenuhnya membiayai kuliahku, awalnya memang setiap aku  membutuhkan uang untuk keperluan kuliah aku tinggal minta orang tua. Tetapi keadaan berbalik setelah ayahku mengalami stroke, mau tidak mau, suka tidak suka aku harus mencari tambahan uang untuk biaya kuliahku. Ya.. hitung-hitung membantu meringankan beban orang tua. 

Liku hidupku dimulai ketika aku mengenal seorang pria yang sudah menjalin hubungan denganku kurang lebih selama tiga tahun. Awalnya hubungan kami bisa dibilang baik. Layaknya sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta, kami melakukan hal-hal sebagaimana yang dilakukan remaja. Dia begitu sempurna dimataku, mengerti segala kesulitan dan sering memberi bantuan dikala ku butuh.

Entah apa yang aku lakukan, dia membuatku begitu terpukau. Hari itu memang seharian kami menghabiskan waktu bersama. Perasaan sayang dan cinta yang dia tunjukkan membuatku luluh seketika. Iyaa... tanpa akhirnya kami  ML atas dasar suka sama suka dan tanpa paksaan apapun. Aku sadar kesalahan yang telah kuperbuat. aku menyerahkan harta yang paling beharga yang aku miliki.

Kaget bukan main saat kudapati sudah terlambat menstruasi selama kurang lebih satu minggu. Perasaan bingung menyelimuti benakku, segera berfikir yang harus aku lakukan. Memeriksa dengan tespack adalah cara untuk mengetahui kondisiku. Terselip perasaan penasaran, ragu, takut, semua bercampur. Sebelum memberitahu pacarku, memang aku harus memastikannya terlebih dahulu.

Tes pack sudah ditangan, kaki ini kelu untuk segera beranjak dan memeriksa. Berjalan pelan menuju kamar mandi yang berada di sebelah dapur rumahku. Terdapat dua garis merah diujung tes pack, seketika aku tersungkur dan berusaha menggerak-gerakkan tespack, tidak yakin dengan hasil yang aku dapati. Berdebar, bingung, menyesal, dan... aku harus menerima konsekuensi dari perbuatan yang aku lakukan. AKU HAMIL!!!!

Lemas tak mampu terucap sepatah kata dari mulutku. Hanya berfikir mencari jalan keluar untuk masalah ini. Kuambil ponsel yang tergeletak di kasur untuk menghubungi pacarku. Di benakku terbesit niat menggugurkan kandungan ini. Tak ada jalan lain yang bisa aku lakukan. Malam itu juga aku bercerita tentang kehamilanku ini, aku tidak meminta pertanggung jawaban. Yang aku minta hanya bantuan untuk menggugurkan bayi dalam perutku ini. 

Bagai kilatan petir menyambar ketika aku mendengar jawaban dari pacarku, “aku tidak mau tau tentang kehamilanmu, itu bukan urusanku!” kalimat itu sampai detik ini pun selalu terngiang di telinga. Hanya tangisan yang bisa kulakukan. Kepada siapa aku meminta bantuan. Sejak dia tahu kehamilanku dia jadi jarang menghubungiku. 

Sekuat tenaga aku melakukan beragai cara untuk menggugurkan bayi ini, tidak mungkin bayi ini aku lahirkan dan membiarkan orang tuaku mengetahui anak perempuannya hamil di luar nikah dan parahnya laki-laki yang menghamili putrinya tidak mau bertanggung jawab. Dalam kondisi ayahku yang stroke, apa aku tega menambah beban mereka dengan  masalahku ini??

Segala macam obat sudah aku minum untuk menggugurkan kandunganku tetapi tak ada hasil, sempat aku berfikir untuk jual diri biar mendapatkan uang untuk biaya menggugurkan kandunganku ini. Tapi karena kehamilanku sudah semakin membesar, untuk menggugurkan sudah tidak mungkin. 

Kampus menjadi area terbising buatku. Kehamilanku yang kian hari kian membesar membuat teman-teman seangkatanku berkicau. Hampir setiap hari aku menjadi hot gosip dan bahan pergujingan. Karena aku hamil diluar nikah. Segala macam ledekan, olokkan, cemooh menjadi santapan hari-hariku. Tapi buatku itu bukan hal yang dapat menjatuhkanku, karena aku berfikir mereka tidak berhak atas hidupku dan hal semacam itu masa bodoh buatku.

Arham adalah sosok laki-laki yang menjadi malaikat penolong disaat aku benar-benar merasa terpuruk. Dia temanku masa kecil, disaat semua orang menghindar, menjauh, mencemooh aku dengan sabar dia memberiku penguatan dan motivasi untuk melawan ujian hidup ini. Arham selalu menjadi orang yang memperhatikanku.

Akhirnya aku bertekad untuk melahirkan bayiku, tapi tidak untuk aku rawat. Melihat kondisiku yang seperti sekarang tidak mungkin aku merawat seorang bayi. Jadi aku mencari informasi tentang orang tua angkat. Aku berniat untuk memberikan anakku untuk diadopsi orang, biar dia memiliki orang tua yang baik dan mendapatkan kehidupan yang layak.

Setelah aku seraching-searching di Facebook, aku menemukan sepasan suami istri yang berminat untuk mengadopsi anakku saat sudah lahir. Selama beberapa hari aku berkomunikasi dengan calon orang tua angkat anakku, dan kami memutuskan untuk bertemu. Saat bertemu, dengan penuh keyakinan mereka mengiyakan permintaaku. Aku hanya minta untuk dibiayai selama proses kelahiranku. Hanya itu tidak lebih. Pasangan itu juga memberikan syarat kepadaku, setelah aku memberikan bayiku itu berarti aku sudah tidak berhak atas dia lagi. 

Aku hamil dan tinggal di rumah. Mungkin tersirat tanya, apa orang tuaku tidak curiga? Jelas mama sangat curiga dan selalu bertanya-tanya, tapi aku selalu mengelak setiap pertanyaannya. “dek kok perut kamu makin hari makin besar ya?” pertanyaan seperti itu sering dilontarkan mama. Dan aku selalu menjawabnya “iya ma, ini tambah gendut sekarang makanku banyak” 

Jika di dalam rumah atau di sekitar tempat tinggalku, korset selalu melilit di perutku menutupi kehamilan yang kian membesar. Sakit... jelas sakit bukan main rasanya tapi semua itu aku tahan sampai proses kelahiranku tiba. Seminggu sebelum aku melahirkan, aku kabur dari rumah. Aku langsung di rumah sakit, dan Arham dia yang menemaniku, mengurusku sampai aku diijinkan untuk pulang oleh dokter. 

selama sembilan bulan mengandung, dan Tiga bulan yang lalu aku melahirkan seorang bayi, naluri seorang ibu tiba-tiba muncul...

Aku merasa sangat menyesal karena sudah memberikan darah dagingku sendiri kepada orang lain, sekalipun aku belum pernah memeluk, menggendong, bahkan menciumnya. Andai diberikan kesempatan untuk bertemu dan memeluknya sekali saja, aku hanya ingin berkata maaf anakku.

“Nak.. maafkan bunda  yang tak berguna, 
maafkan bunda telah membuatmu susah saat dalam kandungan, 
maafkan bunda sudah memberikanmu kepada orang lain, 
maafkan bunda tidak bisa merawatmu. 
Sungguh bunda sangat menyayangimu...”

Sebagai catatan, saat aku hamil laki-laki yang tidak bertangung jawab itu memutuskan hubungan denganku. Dan dia tidak pernah mengetahui kalau aku sudah melahirkan dan memberikan bayi kami untuk diadopsi orang lain. Aku tak pernah menyesal melahirkan seorang bayi, rasa takut atau trauma untuk mengandung kembali pu tak pernah terfikir. Yang aku sesali hanya aku tak mampu merawat anakku sendiri.

Perasaan menyesal yang mendalam selalu menggerogoti fikirku. Terlambat memang untuk menyesalinya, yang sekarang harus aku lakukan adalah mencoba bangkit dan menjalani hidupku ke arah yang lebih baik. Saat ini aku sedang bekerja dan berusaha agar aku bisa melanjutkan kuliahku kembali. Menyelesaikan kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang layak, itulah targetku sekarang. Menikah dengan pria baik dan mampu bertanggung jawab serta melahirkan seorang anak yang soleh soleha adalah keinginanku.

Dari kisah ini Aku hanya ingin berpesan untuk kalian perempuan jangan pernah melakukan kesalahan yang telah aku perbuat, menjadi seorang ibu adalah hadiah terindah karena menjadi sempurna adalah dambaan setiap perempuan. Untuk kalian pria-pria jadilah seorang pria yang bertanggung  jawab karena menjadi seorang ayah merupakan tugas mulia.

1 komentar:

  1. Titanium White Octane | TITNIA-TITNIA | Shop online
    › shop titanium granite countertops › titanium-white-octane blue titanium cerakote › shop › titanium-white-octane Titanium White. The top notch silicone dab rig with titanium nail Titanium White. Find the perfect titanium white titanium network surf freely with premium finish. This is a very popular addition to our website. Get free 포커 delivery

    BalasHapus